Novel Cerita Silat Jawa

Serial :Andaru Wijaya [Seri 6]

Sementara itu dikediaman Raden Prajasena, Putri Kinasih tampak termenung di serambi samping, ditemani bibi embannya.
“Ada apa putri..? Apakah putri sakit, sehingga dari tadi tampak murung,” bibi emban berkata.
“Tidak bi.., aku hanya memikirkan sakit ibunda yang tak kunjung sembuh. Ayahanda seperti tidak perduli lagi, jarang sekali dia berbincang-bincang dengan ibunda, tabib yang ia datangkan dari keraton juga sudah lama tidak memeriksa penyakit ibunda,” Kinasih berkata.
“Bukankah tabib yang mengobati putri itu akan memberikan keterangan melalui Wijaya putri..?” bibi emban itu bertanya.
“Benar, tapi anak padesan itu belum memberitahu kepadaku dan sudah 2 hari ini tidak nampak datang kesini,” Kinasih menjawab, sambil merengut.
“Putri.., anak padesan yang bernama Wijaya itu belum diperbolehkan bekerja lagi oleh ayahanda putri, terkait masalah kuda milik ayahanda putri yang belum kembali,” emban itu menjelaskan.
“Entahlah bi.., anak itu memang sejak kehadirannya membuat masalah, tapi aku melihat kejujuran dari cara dia bersikap,” Kinasih menjawab, mendadak wajahnya memerah dan jantungnya berdegup kencang.
“Ah..Putri membelanya..?” bibi emban mengejek.
“Bibi...!” katanya dengan suara nyaring. “Bibi sudah mulai lagi..!” Kinasih tersungut-sungut.
“Tidak putri.., aku hanya membenarkan pendapat putri, dia memang pemuda yang santun,” bibi emban itu berkata, sambil tersenyum.
“Bibi.., kakiku rasanya sudah sembuh, berkat pengobatan Ki Kapulaga dan anak padesan itu, aku ingin berkuda untuk menghilangkan penat bi..,”Kinasih berkata.
“Tapi ayahanda putri sedang tidak ada dirumah, sedangkan beliaulah yang melarang putri pergi tanpa sepengetahuannya,” bibi emban itu berkata.
“Ayahanda sudah dua hari pergi, entah kemana ? dia bilang bahwa ia berniaga dan sesekali harus pergi ke keraton, aku jemu bi.., aku akan keluar hari ini, menghirup udara segar di dusun pendawareja ini,” Kinasih berkata.
Setelah itu Kinasih mohon ijin ibundanya, Raden Ayu Prajasena tak kuasa menolak melihat wajah putrinya yang murung.
“Kinasih ajaklah Ki Supa untuk menemanimu, aku tidak ingin terjadi sesuatu atas dirimu, kau adalah putriku satu-satunya,” ibundanya berpesan.
“Baiklah ibunda, aku hanya berkuda disekitar dusun pendawareja saja. Aku pergi dulu ibunda..,” Kinasih berkata.
Lalu ia meninggalkan bilik ibundanya dan menghampiri kediaman abdi dalem yang berada tidak jauh dari bangunan utama.
Setelah mendengar keinginan Kinasih dan mendapat restu dari Raden Ayu, Ki supa langsung menyiapkan dua kuda.
Mereka lalu berkuda mengitari sisi luar dusun pendawareja, pemandangan indah sekali, wajah Kinasih berseri-seri. Bukit berjajar rapi berbaris, hamparan padi menghijau seperti permadani menghiasi lereng-lereng bukit. Kinasih memandang puas, kudanya pun dibawa menyusuri aliran-aliran air yang gemericik membasahi petak-petak sawah. Kinasih duduk diatas kudanya, angin berhembus sepoi membelai rambutnya yang hitam panjang, ia memejamkan mata sambil menghirup udara pagi yang sejuk.
Setelah beberapa saat berkuda dan menikmati alam, matahari mulai terasa menghangatkan kulit, Kinasih melihat orang-orang yang pulang dari pasar membawa barang belanja, rasanya ingin sekali ia melihat-lihat keadaan pasar.
“Ki Supa..., dapatkah kita singgah sejenak ke pasar itu..., hari ini hari pasaran di jatisarana,” Kinasih berkata dengan semangat.
“Tentu putri.., apakah ada yang hendak dibeli..?” Ki Supa.
“Entahlah Kiai, aku senang melihat orang-orang yang melakukan jual beli hasil bumi, disana mungkin ada penjual dawet, kita dapat membelinya,” Kinasih menjawab.
Ki Supa dan Kinasih memasuki pasar Jatisarana, mereka menuntun kuda mereka, menitipkan kuda mereka ditempat penitipan.Mereka sempat membeli dawet untuk melepaskan dahaga setelah berkuda berkeliling Dusun Pendawareja. Pasar sudah tidak terlalu ramai, tetapi masih ada beberapa pedagang yang mulai mengemasi dagangannya, diantara mereka terdapat pedagang gerabah, hasil bumi dan pedagang kain.Kinasih mendekati penjual kain yang ada disisi jalan.
“Berapa harga kain ini nyi...?” Kinasih bertanya.
“Kalau kain yang halus 5 keping, tetapi kalau kain yang biasa cukup 2 keping uang saja,” penjual kain itu menjawab.
Tiba-tiba terdengar suara orang lain yang mengejutkan.
“Kau tidak perlu membayarnya nyi...!,kau bisa mengambil berapa yang kau mau,” terdengar suara dari belakang Kinasih dan Ki Supa.
Tiba-tiba Kinasih dikejutkan oleh suara orang lain dibelakangnya, Kinasih dan Ki supa menoleh kebelakang. Ki Supa dan Kinasih menatap heran, orang berwajah garang dengan kumis melintang tersenyum di belakang mereka.
Sementara itu dibelakang orang yang berkumis melintang itu nampak seorang dengan berpakaian prajurit dengan rambut berwarna jagung, bertubuh tinggi turun dari kereta kuda.
“Oh..., rupanya ada gadis ayu disini Kebo Sempal...?” bertanya prajurit itu kepada orang yang berwajah garang dan berkumis melintang, yang dipanggil Kebo Sempal.
“Benar menir Van Dejik..! Apakah menir tertarik ..?” yang dipanggil Kebo Sempal itu bertanya.
“Dia cantik sekali..,tentu ia pantas berada di loji benteng,” lelaki yang dipanggil Menir Van Dejik itu menjawab, lalu mendekati Ki Supa dam Kinasih.
Sementara penjual kain itu gemetar ketakutan, orang-orang dipasar itu tiba-tiba ketakutan dan menjauh dari tempat penjual kain itu.
“He kakek tua..!”
 “Siapakah gadis cantik ini? Apakah dia anakmu?”
Ki Supa menjadi tegang, ia berdiri mematung dan berkata,” bukan tuan..,aku adalah pemomongnya.”
Kinasih pun menunduk dan berdiri gemetar ketakutan, orang-orang dipasar itu hanya berani melihat dari kejauhan, mereka sering mendengar bahwa orang-orang asing di loji benteng itu suka merampas dan bertindak kasar.
Sebenarnya benteng didekat persimpangan jalan Jatisarana itu belum selesai dibangun, hanya saja bangunan untuk orang asing yang disebut loji itu sudah dapat ditempati. Orang-orang asing yang disebut kompeni atau landha itu telah menjajah mataram sejak Sultan Agung mataram berkuasa, setelah keraton berpindah ke surakarta pun mereka masih memecah belah. Pangeran mangkubumi salah satu adik susuhunan Pakubuwana pun telah menentang Kompeni, ia menghimpun laskarnya di Sukowati. Karena kelicikan Belanda yang menghasut dan mengadu domba akhirnya memecah mataram menjadi dua, dan Pangeran Mangkubumi kemudian menjadi sultan di Ngayogyakarta.
Sementara di pasar Jatisarana itu Ki Supa masih berdiri mematung,ia berpikir tentu menir itu akan membawa Putri Kinasih itu ke loji, ia tidak berani membayangkan apa yang akan dilakukan kompeni-kompeni gila itu. Tidak jarang mereka mengambil wanita-wanita pribumi untuk dijadikan budak dan dicampakkan setelahnya, bahkan kadang ada yang sampai hilang ingatan, karena himpitan perasaan dan putus asa.
“He.., apa kau masih ingin kain itu nyi..? Ambillah..,aku akan membayarnya.”
“Kalau kau ingin perhiasan atau apapun ikutlah ke Loji, jangan hiraukan tua bangka ini..,” Menir Van Dejik berkata.
Kemudian ia mengangkat dagu Kinasih dengan tangannya agar dapat menatap wajahnya yang sedari tadi menunduk, Kinasih mengangkat wajahnya, tetapi kemudian surut selangkah dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
“Terimakasih Tuan.., maaf aku tidak jadi membeli kain ini, aku akan pulang saja,” Kinasih menjawab.
“Naiklah ke keretaku biar aku antar kau sampai depan rumahmu anak manis..,” Menir itu berkata.
Kinasih berdebar-debar, pria asing itu semakin berani, wajahnya pun menjadi pucat karena ketakutan.
“Tuan anak ini hanyalah anak padesan tidak pantas rasanya dia pergi bersama tuan,” Ki Supa memohon, sambil membungkukkan badan, didepan orang asing itu.
“Tua Bangka tidak tahu diri!” Menir Van Dejik mengumpat dan mendorong tubuh Ki Supa dengan kedua tangannya.
Ki Supa jatuh terduduk dan bertahan pada kedua tangannya, Kinasih terpekik kecil, lalu dia membantu Ki Supa untuk bangkit.
Kebo Sempal tertawa disamping menir Van Dejik melihat pemandangan yang tidak pantas itu.
“Paksa Saja Gadis itu menir! Biar aku bereskan orang tua tidak berguna ini,” Kebo Sempal tertawa berkepanjangan.
Tiba-tiba tangan menir itu menarik lengan Kinasih, Kinasih meronta-ronta dan meminta menir itu melepaskan tangannya. Ia menangis sambil memukul-mukul tubuh menir Van Dejik, sementara menir itu dan Kebo Sempal tertawa terbahak-bahak.
Menir itu tidak mau melepaskan genggaman tangannya dari Kinasih, walaupun Kinasih meronta-ronta dan memukulnya.
Darah Ki Supa terasa mendidih, matanya menyala menahan amarah, ia menggeram, bagaimanapun juga ia adalah bekas laskar pejuang. Karena merasa dihinakan martabat wanita pribumi, Ki Supa bertekad melawan Kompeni dan penjilat bangsa asing itu.
“Cukup...! Kalian sudah melampaui batas!” ujar Ki Supa dengan nada tinggi. “Begitukan cara kalian memperlakukan wanita? Dan kau orang asing, yang juga mengaku bangsa yang beradab, bukankah kau juga terlahir dari seorang wanita?”
“Aku tidak akan membiarkan kalian menginjak-injak harga diri bangsa kami.”
Menir Van Dejik menggeram, kemarahan membakar jantungnya mendengar ucapan Ki Supa.
“Kebo Sempal jangan diam saja he! Bereskan orang tua ini, aku akan mengamankan gadis itu,” Menir Van Dejik berkata sambil memegang kedua tangan Kinasih yang disilangkan ke belakang.
Kebo Sempal melompat mendekati Ki Supa, Lelaki berwajah garang dan berkumis melintang itu, sudah tidak sabar lagi menyerang Ki Supa.
Ki Supa pun bersiap dihadapan Kebo Sempal, disekeliling pasar itu pun pedagang ketakutan mereka menutup warungnya dan sebagian lari menjauhi tempat itu.
“He kisanak! Kau belum tahu siapa aku?”
“Aku Kebo Sempal, namaku terkenal diantara para gegedug dari bagelen sampai meteseh, bahkan sampai ketempat ini,” Kebo Sempal memperkenalkan diri.
“Siapa pun kau aku tidak gentar, setidaknya aku tidak menjadi beban bagi mataram dengan menjilat kompeni,” ki Supa berkata.
Kebo Sempal yang marah langsung menyerang ke arah wajah lawannya, Ki Supa menghindar dengan mundur selangkah dan menarik wajahnya, serangan itu luput, karena hanya sejengkal dari hidungnya.Kebo Sempal melanjutkan serangannya dengan tendangan mendatar kearah dada, Ki Supa menepis serangan itu dengan lengan kirinya yang ditekuk setinggi dada sambil memiringkan tubuhnya.
Kebo Sempal menggeram marah karena serangannya dapat dielakkan, Kinasih masih berdiri mematung memandang pertarungan itu.
Ki supa masih menjajaki kemampuan lawannya, sementara KeboSempal mulai penasaran ingin segera membuat Ki Supa berlutut.
Kebo Sempal mengubah irama serangannya menjadi lebih cepat, tetapi lawannya cukup gesit dan tenang menghadapi serangan yang bertubi-tubi.
Ketika sebuah pukulan mengarah ke kening Ki Supa, ia berkelit dan menarik lengan lawannya dengan kedua tangannya, lalu melemparkannya ke belakang tubuhnya.
Kebo Sempal jatuh terjerembab ditanah, mulutnya kotor dengan tanah dan mengeluarkan darah.
Menir Van Dejik menjadi tegang menyaksikan Kebo Sempal jatuh tersungkur ke tanah.
 Kebo Sempal mencoba bangkit sambil mengumpat kasar.
“Kurang ajar kau orang tua! Kau akan menyesal berurusan denganku,” Kebo Sempal berkata sambil meludah membersihkan debu yang masuk ke dalam mulutnya. Kebo Sempal lalu mencabut senjata berupa pisau belati yang panjang, senjatanya menyambar dan mencoba menggapai tubuh Ki Supa.
Pisau itu diarahkan mendatar ke lambung Ki Supa, Ki Supa surut selangkah untuk menghidari serangan tersebut. Tetapi pisau itu nyaris mengenai dadanya, beruntunglah hanya bajunya saja yang sedikit terkoyak .
Ketika pisau itu kembali diarahkan ke lurus menjurus kedadanya, secepat kilat Ki Supa mendahuluinya dengan sebuah tendangan sambil melompat mengenai dada Kebo sempal. Kebo Sempal terdorong dan jatuh terbanting ke tanah, ia berusaha bangkit dan menahan sesak didadanya, tetapi ia tak sanggup, ia hanya terduduk sambil memegang dadanya.
Ki Supa hanya berdiri mematung memandanganya, memberi kesempatan kepada Kebo Sempal untuk berdiri, setelah beberapa saat Kebo Sempal tidak beringsut dari tempatnya terduduk, Ki Supa kemudian berpesan kepada penjual kain itu untuk berkemas dan meninggalkan tempat itu. Dengan cepat penjual kain itu mengemasi dagangannya, dengan tubuh gemetar, sesekali kainnya jatuh karena gugup dan ketakutan, setengah berlari ia memikul dagangannya.
Tanpa diduga-duga dari arah belakang, leher Ki Supa ditekan oleh sebuah pedang yang panjang dan tipis, diikuti suara mengancam.
“Aku tebas leher kowe orang tua! Pedang ini dibuat dari logam pilihan yang tajamnya dapat menyayat kulitmu, tanpa aku mengayunkannya,” Menir Van Dejik berkata dengan nada tinggi.
Rupanya menir itu telah bertindak licik , dengan memanfaatkan kelengahan Ki Supa, ia melepaskan tangan Kinanti dan mencabut pedangnya lalu berpindah mengancam dengan menekan leher Ki Supa dari arah belakang.
Suasana menjadi mencekam, peluh mengalir dikening Ki Supa, tetapi ia berlega hati karena Kinanti terlepas dari genggaman menir itu.

0 komentar:

Posting Komentar

Pengikut